Lebih jauh di katakan Bupati Amirudin kalau saya yang memanggil dan menyuruh mengaploud semua berita, kesanya bisa jadi di bilang Bupati ini makan puji (dialek) warga Luwuk atau kata lain seakan meninggikan diri sendiri dengan apa yang sudah di buat.
Itulah yang paling saya takutkan dan menghindari yang namanya bahasa puji pujian. “Karena sesungguhnya puji pujian itu hanya milik Allah SWT/ Tuhan Yang Maha Esa bukan milik manusia,” terangnya.
Makanya pada setiap kesempatan para OPD, Para Camat atau siapapun yang berpidato, saya langsung menegur kalau dirinya terlalu berlebih-lebihan dalam berpidato, “Yang terhormat bupati dan lain nya, banyak embel embelnya, saya langsung tegur,” ucapnya.
Ia mengaku bahwa tidak boleh seperti itu, yang seakan akan memuji yang namanya manusia. Karena sekali lagi bahwa puji pujian itu hanya milik Allah SWT/Tuhan Yang Maha Esa. Kalau teman teman wartawan mau datang ketemu saya kapan saja, “Saya itu setiap hari harus tidur jam 12 malam bahkan sampai jam 3 malam itu ngobrol,” akunya.
Itu kenapa kegiatan kopi bareng bersama Bupati Banggai saya tidak laksanakan, karena setiap malam saya harus tidur jam 2 bahkan sampai jam 3 malam, melayani masyarakat yang datang dari berbagai kecamatan. Setiap malam saya ngobrol dengan mereka, itu sebabnya saya tidak buat acara kopi bareng seperti mengutip seperti yang pernah di sampaikan pada Pilkada 2020 silam. “Karena semuanya sudah terinclude pada kegiatan malam,” jelasnya.