BANGGAI — Dalam suasana perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Partai Golkar di Kabupaten Banggai tersirat sebuah pesan politik yang dalam dan penuh makna ditunjukkan Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Banggai Beniyanto Tamoreka.
Hal tersebut disampaikan Staf Khusus DPRD Banggai Fraksi Golkar Muhammad Ramdan. Menurutnya Ketua DPD II Golkar Banggai Beniyanto Tamoreka dalam momentum itu memberikan contoh konkret tentang kedewasaan berpolitik dengan merangkul sesama kader dalam momentum yang penuh simbolik.
Perayaan yang digelar sederhana namun khidmat, Beniyanto Tamoreka terlihat merangkul Samsul Bahri Mang didampingi istri Yolanda Antuke. Sebuah gestur yang dinilai sebagai bentuk keteladanan dalam merajut soliditas internal partai.
“Beniyanto ingin seluruh kader muda belajar bahwa politik bukan soal konflik abadi, tapi soal kedewasaan dalam menyikapi perbedaan dan menjaga persatuan,” ujar Muhammad Ramdan Sekretaris Panpel HUT Partai Golkar ke 61.
Tentunya, gestur rekonsiliatif ini langsung mendapat perhatian dari sejumlah kader dan pengurus partai yang hadir. Di tengah dinamika politik yang kerap diwarnai intrik dan friksi internal, langkah Beniyanto dipandang sebagai simbol kuat dari politik yang beretika dan bermartabat.
Selain itu, tindakan ketua DPD II Partai Golkar bukan hanya soal merangkul secara fisik, tapi juga merangkul semangat kebersamaan untuk membangun Golkar yang lebih solid, inklusif, dan visioner.
Mendidik Melalui Tindakan, Bukan Sekadar Retorika
Pendidikan politik yang ditampikan sosok Ketua DPD II Golkar Banggai Beniyanto Tamoreka bukan hanya soal ceramah atau pelatihan tertulis. Ia menunjukkan bahwa keteladanan adalah cara paling efektif untuk mendidik generasi muda partai. Perbedaan pandangan tidak harus berakhir pada permusuhan, dan kompetisi dalam politik harus dibingkai dalam semangat sportivitas dan kematangan.
“Pada HUT ini, para kader muda di partai Golkar akan tumbuh jadi politisi yang bukan hanya cerdas, tapi juga berjiwa besar,” jelasnya.
HUT ke-61 Partai Golkar tahun ini bukan hanya dirayakan dengan kilau atribut dan kemeriahan seremonial, tapi juga diwarnai dengan pesan moral yang kuat politik membutuhkan kedewasaan, dan masa depan partai ada di tangan mereka yang mampu menjunjung nilai-nilai rekonsiliasi dan persatuan.*
(zuma)












