Khotib : Ustad Zainuddin
BANGGAI — Ramadhan yang kita cintai kini telah pergi. Ramadhan yang selama ini telah membangunkan kita waktu sahur membuat kita berdiri lama dalam shalat tarawih sudah meninggalkan kita semua.
Hari ini kita berkumpul ditempat ini dengan pakaian terbaik. Namun sebenarnya hari ini bukan hanya hari kegembiraan. “Hari ini adalah hari renungan,” ujar Khotib Ustad Zainudin dalam hotbah Idul Fitri di Mesjid Besar Al-Ikhlas Bunta, Sabtu (20/3).
Sejak malam hingga pagi ini kita mengumandangkan takbir. Sambungnya takbir ini bukan hanya suara yang keluar dari lisan kita. Tetapi seharusnya menggetarkan hati kita. “Takbir berarti kita mengakui Allah Maha Besar, kita hanyalah hamba yang lemah, kita hidup karena rahmat Allah dan kita kembali kepada Allah,” jelasnya.
Hari ini kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita benar – benar menang setelah lebaran ? Ramadhan yang kita cinta telah pergi, ramadhan yang membuat hati kita lembut ketika kita membaca Al-Quran telah pergi.
Ramadhan yang mengajarkan kita menahan diri dari dosa. Namun ramadhan hari ini telah pergi. Para ulama salaf dulu menangis ketik ramadhan berakhir. Mereka menangis bukan karena ramadhan telah selesai tetapi mereka takut apakah amal kami diterima oleh Allah SWT ?.
Hari ini kita datang dengan senyuman, namun tidak semua hati benar – benar tersenyum kata Ustad Zainuddin. Ada diantara kita yang datang ke tempat shalat Ied dengan air mata tertahan.
“Ada seorang anak yang dulu selalu datang bersama ayahnya, hari ini ayahnya telah berada di dalam kubur. Ada seorang Ibu yang dulu menunggu anaknya pulang dari hari raya, hari ini anaknya telah lebih dahulu kembali kepada Allah,” ucapnya.
Ada seorang suami yang dulu selalu menggandeng istrinya menuju mesjid, hari ini ia hanya bisa menggenang. “Begitulah kehidupan tahun lalu kita mungkin masih duduk bersama mereka, namun hari ini mereka sudah berada di alam yang berbeda. Allah berfirman, “Apabila ajal telah datang, maka tidak dapat ditunda atau dimajukan walupun sesaat (Qs Al-A’raf :34,”
Hari ini kita masih diberikan kesempatan hidup tetapi tidak seorang pun yang tahu apakah tahun depan kita masih bisa berdiri ditempat ini. Hari raya seperti ini kita seperti merindukan orang tua kita. Dulu ketika kita masih kecil pagi hari raya, adalah hari yang paling di tunggu.
Setelah shalat Ied kita pulang ke rumah mencium tangan tangan ayah dan ibu. Sambil tersenyum mereka berkata semoga kamu menjadi anak yang baik. Namun hari ini berapa banyak diantara kita yang sudah kehilangan orang tua. Rumah masih ada tetapi suara ibu sudah tidak ada. Kursi ayah masih ada tetapi orangnya sudah tidak ada yang tersisa hanya kenangan dan doa.
Karena itu Rasulullah bersabda, “Celaka, celaka, celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya dimasa tuanya tetapi tidak membuatnya masuk syurga,” sebutnya. Oleh karena itu, jika orang tua kita masih hidup maka hari ini adalah kesempatan untuk membahagiakan mereka. Dan jika orang tua kita sudah tiada, maka jangan lupa mengrimkan doa untuk mereka.
Hari raya seharusnya menjadi hari persatuan. Namun kenyataanya masih ada keluarga yang bertahun – tahun tidak saling berbicara, “Ada kakak adik yang tidak saling menyapa. Ada saudara yang saling menjauh karena masalah harta, ada keluarga yang terpecah hanya karena kesalahpahaman kecil,” akunya.
Padahal dunia ini sangat singkat mengapa kita harus membawa dendam begitu lama Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk syurga orang yang memutus silaturahmi,” sebutnya. Bayangkan hanya karena ego dan amarah hubungan keluarga bisa terputus bertahun – tahun, padahal suatu hari nanti kita akan kembali kepada Allah SWT”
Hari ini menjadi kesempatan kita memperbaiki hubungan sesama muslim, berapa banyak sahabat yang dulu sangat akrab, namun hari ini tidak lagi saling menyapa. Berapa banyak tetangga yang dulu sangat dekat, hari ini saling menjauh dan berapa banyak hati yang penuh kebencian padahal hidup ini sangat singkat. Rasullulah bersabda “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian mencintai (HR Muslim)”.
Kemenangan idul fitri bukanlah kemenangan memakai pakaian baru. Bukan kemenangan makan makanan enak dan bukan pula kemenangan bersenang – senang Sayyidina Ali Bin Abi Thalib berkata “Setiap hari yang tidak digunakan untuk bermaksiat kepada Allah maka itu adalah hari raya”. Artinya kemenangan sejati adalah ketaatan kepada Allah”
Hari ini kita buka lembaran baru, mari kita tutup lembaran lama yang penuh dosa. Hilangkan kebencian, dendam, iri dan dengki. Gantilah dengan kasih sayang dan persaudaraan, ulurkan tangan kita tersenyumlah kepada saudara kita dan katakan dengan tulus “Mohon Maaf Lahir dan Batin”.
Semoga hari ini benar – benar menjadi hari kemenangan bagi kita semua. Ya Allah terimalah puasa kami, shalat kami, sedekah kami, dan seluruh amal ibadah kami selama ramadhan. Ampuni dosa kedua orang tua kami angkat derajat mereka di sisi-Mu. Satukan hati kami dalam kasih sayang hilangkan kebencian dari hati kami.
Dan jadikan keluarga kami keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. “Ya Allah akhiri hidup kami dengan husnul khatimah, kumpulkan kami di surga bersama Nabi Muhammad, Amin Ya Rabbal Alamin,” pungkasnya.*
(zuma)














