BANGGAI — Pemilik sebuah warung makan yang ada di pusat Kota Luwuk mendadak geram dengan ulah dua orang pria berseragam dinas (ASN).
Hal itu diungkap pemilik warung yang menuturkan sikap tak terpuji oleh dua oknum ASN yang diduga habis mengkonsumsi minuman keras (miras), Senin (6/7).
Pemilik warung itu mengaku mereka datang mengenakan seragam dinas (keki) dan pesan dua porsi makanan. Gerak gerik mereka seperti habis konsumsi miras karena dari mulut mereka tercium bau minuman keras (miras).
Sebagai penjual kami tetap profesional melayani siapa saja yang datang, entah itu mau makan atau ingin makanan mereka dibungkus kata dia. “Sama seperti dua oknum ASN tadi kami layani karena pembeli,” ucapnya.
Awalnya semuanya seperti biasa, mereka duduk dimeja (sambil menunjuk) tempat kedua oknum ASN itu makan. Kejengkelan mulai dirasakan saat keduanya sedang makan teman yang satunya itu terlihat sudah reseh, “Karena so ba minum jadinya reseh, bicaranya so ngawur,” kesalnya.
Saya mulai jengkel liatnya, begitu juga dengan pengunjung lain yang saat itu juga sedang makan dan sudah mulai tak nyaman dengan sikap mereka. Setelah makan temanya yang satu dengan ciri – ciri rambut agak botak mendekati saya, “Dia so dekat skali, seperti macam somo ba cium bagitu, sambil berkata saya so bayar kan,” kutip pemilik warung dengan dialek setempat.
Karena merasa risih dengan sikapnya, sayapun berlalu ke arah dapur mengambil daging. Dan yang paling kami tidak suka lagi, teman yang satunya itu mengambil sendiri uang sisa dari dalam laci di lemari etalase makanan, “Disitu kami kesal dan emosi,” akunya.
Setelah temanya itu ambil uang sisa sendiri dari dalam laci, keduanya keluar dari warung dan pergi berboncengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio M3. “Uang mereka 50 ribu, bayar makanan 35 ribu jadi kembali 15 ribu. Tapi yang kami tidak suka dia ambil sendiri uang sisa dari dalam laci,” ujarnya kesal.
Saat ditanya kenal dengan dua oknum ASN tadi, pemilik warung itu mengaku tidak kenal dan juga tidak sempat menghafal nama mereka padahal ada terpasang papan nama di kameja dinas mereka dan ada lambang – lambangnya.
Ia juga tidak mengetahui pasti mereka ASN bertugas di kantor mana atau instansi mana. “Tapi kalau rambut agak botak tadi beberapa kali pernah makan disini,” timpal seorang ibu paru baya pelayan warung.
Sikap tak terpuji kedua oknum tadi juga dibenarkan pengunjung lain yang juga merasa terganggu saat sedang makan. Dia mengaku kesal juga melihat sikap keduanya tadi, “Masa ASN pakai seragam bau minuman baru reseh,” ujarnya.
Ia menyesalkan ada ASN model seperti itu yang seharusnya menjadi contoh dan panutan masyarakat sebagai abdi negara justru sudah seperti sikap preman baru pakai dinas lagi.*
(zuma)














