Pemda Banggai

Simak ! Manfaat Program Disnakeswan Banggai Lewat Inovasi Mantri Hewan Keliling

Zulkifly Mangantjo
4
×

Simak ! Manfaat Program Disnakeswan Banggai Lewat Inovasi Mantri Hewan Keliling

Sebarkan artikel ini
Disnakeswan Banggai
Program inovasi disnakeswan banggai mantri hewan keliling. (dok : disnakeswan)

BANGGAI — Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Banggai terus melakukan berbagai inovasi. Setelah inovasi Gerakan Pakan Ternak Lingkungan (Geparling) yang terus dikembangkan lahir dari ide cemerlang Yuniarty Rizkiyani Bullah.

Kembali program Mantri Hewan Keliling menjadi inovasi jitu Disnakeswan Kabupaten Banggai (Mantri Healing). Terobosan ini merupakan inovasi daerah yang dilakukan pengembangan oleh Drh Sulistiyo Widodo Medik Veteriner Ahli Muda. Dalam pelaksanaan Mantri Keliling tak pelak menghadapi permasalahan makro dalam pelaksanaan Mantri Hewan Keliling

“Meskipun mulia, sering pula menghadapi berbagai permasalahan makro yang menghambat efektivitas dan keberlanjutannya. Permasalahan ini bukan hanya bersifat teknis operasional, melainkan juga melibatkan aspek kebijakan, sosial, ekonomi, dan geografis,” ujar Sulistiyo Widodo. 

Sambungnya ada beberapa permasalahan makro sebutnya ;

1. Keterbatasan Anggaran dan Sumber Daya Salah satu hambatan utama adalah keterbatasan anggaran dari pemerintah pusat maupun daerah. Ini berdampak pada:

– Pengadaan obat-obatan dan vaksin: Ketersediaan dan jenis obat seringkali terbatas, tidak mencakup semua kebutuhan hewan di lapangan.

– Peralatan medis: Peralatan yang usang atau tidak memadai dapat menghambat diagnosis dan tindakan medis yang akurat.

– Biaya operasional: Bahan bakar, perawatan kendaraan, dan insentif bagi mantri hewan seringkali tidak mencukupi, membatasi jangkauan layanan.

– Kurangnya tenaga medis veteriner: Jumlah dokter hewan atau paramedis veteriner yang tersedia tidak sebanding dengan kebutuhan populasi hewan, terutama di daerah terpencil.

2. Tantangan Geografis dan Infrastruktur

Kondisi geografis Indonesia yang beragam, dari pegunungan hingga pulau-pulau terpencil, menimbulkan tantangan besar:

– Aksesibilitas: Banyak daerah yang sulit dijangkau akibat jalan yang rusak, tidak adanya jembatan, atau hanya bisa diakses melalui jalur air. Ini membuat mantri hewan membutuhkan waktu dan biaya lebih untuk mencapai lokasi.

– Ketersediaan komunikasi: Sinyal telepon atau internet yang buruk di daerah terpencil mempersulit koordinasi dan pelaporan data.

– Fasilitas pendukung: Kurangnya klinik hewan atau pusat kesehatan hewan di daerah pelosok memaksa mantri hewan untuk membawa semua peralatan dan obat, menambah beban logistik.

Baca Juga :  Quota Extra Gas LPG 3 Kg 560 Tabung Terjual Habis, Warga Bunta : Terima Kasih Bupati Banggai

3. Aspek Sosial dan Budaya Masyarakat

Pola pikir dan kebiasaan masyarakat juga berperan penting:

– Kurangnya kesadaran akan kesehatan hewan: Banyak pemilik hewan, terutama di pedesaan, belum memahami pentingnya vaksinasi, sanitasi, atau penanganan penyakit hewan secara dini.

– Kepercayaan tradisional: Beberapa masyarakat mungkin lebih mempercayai pengobatan tradisional daripada medis modern untuk hewan peliharaan mereka.

– Rendahnya prioritas hewan ternak: Hewan ternak seringkali hanya dianggap sebagai komoditas ekonomi, dan kesehatan mereka kurang menjadi perhatian sampai terjadi wabah.

4. Koordinasi dan Kebijakan

Kurangnya koordinasi yang terpadu antara berbagai pihak serta kebijakan yang belum optimal dapat menghambat program:

– Koordinasi antarinstansi: Seringkali terjadi tumpang tindih program atau kurangnya sinkronisasi antara pemerintah pusat, dinas pertanian daerah, dinas kesehatan hewan, dan lembaga swadaya masyarakat.

– Regulasi yang belum kuat: Peraturan terkait kesehatan hewan, peredaran obat hewan, atau bahkan kepemilikan hewan mungkin belum memadai atau penegakannya lemah.

– Sistem data dan informasi: Belum adanya sistem data terintegrasi mengenai populasi hewan, riwayat kesehatan, dan penyebaran penyakit di tingkat nasional atau regional mempersulit pemantauan dan perencanaan program.

5. Sumber Daya Manusia dan Kapasitas Mantri Hewan

Aspek kualitas dan kuantitas sumber daya manusia juga perlu diperhatikan:

– Kekurangan tenaga profesional: Masih kurangnya minat generasi muda untuk berkarir sebagai paramedis veteriner atau mantri hewan, terutama di daerah.

– Pengembangan kapasitas: Pelatihan berkelanjutan untuk mantri hewan agar selalu up-to-date dengan perkembangan ilmu kedokteran hewan dan teknologi baru seringkali terbatas.

– Keamanan dan kesejahteraan mantri hewan: Bekerja di daerah terpencil atau menghadapi hewan yang agresif dapat membahayakan mantri hewan, namun aspek keamanan dan jaminan kesejahteraan mereka sering kurang diperhatikan.

Sambungnya selain permasalahan makro permasalahan mikro Program Mantri Hewan Keliling merupakan terobosan pelayanan yang dilakukan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Banggai yang merupakan salah satu pelayanan di masyarakat secara langsung. Mantri hewan keliling memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan ternak di berbagai wilayah, terutama di daerah pedesaan yang mungkin jauh dari fasilitas kesehatan hewan. Dirinya juga menjelaskan beberapa alasan mengapa mantri hewan keliling diperlukan sebagai berikut :

Baca Juga :  Proyek Strategis SUTT 150 KV Ampana-Bunta, Bupati Amirudin : Penopang Ketenagalistrikan Wilayah Kabupaten Banggai

1. Aksesibilitas: Di daerah terpencil, peternak seringkali kesulitan mengakses klinik atau rumah sakit hewan. Mantri hewan keliling membantu menyediakan layanan kesehatan hewan langsung ke lokasi peternak.

2. Pencegahan Penyakit: Dengan adanya mantri hewan yang secara rutin mengunjungi peternak, deteksi dini dan pencegahan penyakit pada ternak dapat dilakukan lebih efektif. Ini membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit yang dapat berdampak pada populasi ternak yang lebih luas.

3. Peningkatan Kesejahteraan Hewan: Mantri hewan memberikan edukasi dan layanan yang meningkatkan kesejahteraan hewan, termasuk perawatan umum, vaksinasi, dan penanganan masalah kesehatan lainnya.

4. Peningkatan Produksi Peternakan: Ternak yang sehat cenderung lebih produktif. Dengan perawatan yang tepat dan rutin dari mantri hewan, hasil produksi peternakan (daging, susu, telur, dll.) dapat meningkat.

5. Pendampingan dan Edukasi: Mantri hewan tidak hanya memberikan layanan medis, tetapi juga memberikan pendampingan dan edukasi kepada peternak tentang praktik peternakan yang baik, nutrisi, dan manajemen kesehatan ternak.

6. Tanggap Darurat: Dalam situasi darurat seperti wabah penyakit atau bencana alam, mantri hewan keliling dapat memberikan respons cepat dan penanganan yang diperlukan untuk mengurangi dampak negatif pada ternak.

Secara keseluruhan, kehadiran mantri hewan keliling sangat penting untuk mendukung kesehatan dan produktivitas ternak, serta kesejahteraan peternak di daerah-daerah yang mungkin kurang terjangkau oleh layanan kesehatan hewan konvensional.

Oleh karena itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan melakukan inovasi pelayanan berjudul Mantri Hewan Keliling dengan lokus kegiatan di tiga kecamatan (Bualemo, Toili dan Toili Barat). Mantri hewan keliling adalah seorang petugas kesehatan hewan yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan hewan secara langsung ke tempat-tempat yang membutuhkan, seperti peternakan, desa-desa, atau daerah terpencil. Mereka biasanya bekerja di bawah dinas peternakan atau instansi pemerintah terkait yang mengurusi kesehatan hewan. 

Inovasi mantri hewan keliling menyambangi peternakan warga
error: Content is protected !!