Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, karena perlahan rumah sudah mulai bergerak terseret arus, Rusli memutuskan untuk segera keluar dari dalam rumah menyelamatkan dirinya dari ancaman nyawa, dan hanya bisa pasrah melihat rumah miliknya hanyut dan tenggelam ke dalam sungai.
“Tidak ada yang bisa saya selamatkan termasuk dokumen penting dan ijazah,” tuturnya.
Rusli Jampa dan Sahran Latuba mengaku saat kejadian hanya bisa pasrah dengan raut muka yang penuh kesedihan melihat puing puing rumah mereka yang telah di tinggali puluhan tahun itu bersarang di muara sungai berjarak beberapa puluh meter dari lokasi berdirinya rumah,
“Ini saja tinggal baju di badan samua anyor (hanyut -red) tidak ada satupun yang bisa kami selamatkan dari dalam rumah,” ujarnya dengan raut muka sedih.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, kabarnya salah satu warga lansia yang sebelumnya berada dalam rumah milik Rusli Jampa berhasil di evakuasi dengan bantuan beberapa warga sekitar, sebelum akhirnya rumah mereka hilang dalam kegelapan di balik kencangnya arus sungai.
Lurah Kalaka Kadir Sangketa, Askar Kepala Lingkungan III, seorang anggota TNI, pemilik rumah, warga serta awak media ini, tak mampu berbuat banyak. Di samping kondisi sangat gelap, keterangan Askar Kepala Lingkungan III bahwa sekitar lokasi muara sungai itu sangat dalam.
Terlihat puing puing bangunan rumah yang hanyut terseret arus sungai tadi dengan pencahayaan senter seadanya masih bersarang di muara sungai, walau beberapa titik ada yang dangkal dan juga namun kondisi arus sungai yang kencang, warga dan pemilik rumah hanya bisa menatap puing puing bangunan rumah mereka berada di tengah arus muara sungai yang masih terus kencang saat itu.*
(zuma)