BANGGAI — Kemarau panjang yang disebut warga El Nino “Godzila” masih berlangsung di sejumlah kecamatan wilayah Kabupatan Banggai. Seperti di Bunta misalnya, kemarau panjang beberapa bulan ini berdampak sulitnya warga mendapat pakan ternak.
Kemarau yang melanda tanpa hujan berimbas keringnya rumput yang menjadi ladang sumber pakan ternak milik warga. Kondisi ini dikeluhkan warga pemilik ternak karena mengaku sulit mendapatkan rumput hijau sebagai asupan pakan ternak piaraan mereka.
Ditengah kesulitan pakan warga pun memutar otak kendati merogoh kocek pribadi menyewa orang mencari rumput di tempat lain agar asupan makanan ternak tetap terjaga.
“Sekarang susah sekali cari rumput. Hampir semua rumput sudah kering. Kami harus mencari ke tempat yang lebih jauh agar ternak tetap bisa makan kendati bayar orang cari rumput,” ujar seorang warga pemilik ternak.
Yang lebih mengkawatirkan lagi ditengah kemarau panjang berpotensi sapi mengalami kondisi penurunan kesehatan dan terpapar penyakit karena stres, sulitnya makanan dan air karena kemarau, “Tidak hanya rumput yang susah di cari, kami juga khawatir sapi ikut sakit,” keluh warga.
Mengantisipasi sapi terpapar penyakit pada musim kemarau panjang yang masih terjadi langkah taktis warga pemilik ternak membeli vitamin seharga Rp. 100 ribu berisikan empat buat kapsul merk Pro B Plek Bolus untuk menambah asupan gizi ternak mereka.
Kadisnakeswan Banggai
Terpisah Kepala Dinas (Kadis) Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupatan Banggai Fahmi di konfirmasi media ini Kamis (10/9) mengatakan bahwa Disnakeswan Banggai saat ini sudah melakukan langkah antisipatif dengan melakukan pelayanan kesehatan hewan di beberapa tempat baik pelayanan dari petugas keswan lapangan atau petugas dinas yang turun lapangan seperti pemberian vitamin untuk penambah nafsu makan.
Sambungnya untuk penanganan penyakit yang muncul belum terlalu signifikan diperlukan seperti vaksinasi. “Apalagi yang sifatnya pengobatan, tindakan pengobatan dilakukan apabila ternak sudah bergejala penyakit,” ujarnya. Antisipasi utama adalah ketersediaan pakan dan air dan kemudahan sapi mengakses pakan dan air. Karena klo kurang pakan yang terjadi adalah malnutrisi, kurus dan kurang gizi sehingga berpotensi muncul penyakit. Apabila pakan tercukupi maka ketahanan tubuh ternak kuat. “Yang paling utama adalah penyediaan pakan dan air untuk sumber energi bagi ternak,” jelasnya.
Lanjutnya sumber pakan bisa dengan rumput alami kata Kadisnakeswan Fahmi. Tetapi apabila rumput alami tidak tersedia dikarenakan kekeringan sebaiknya mulai menggunakan pakan alternatif, seperti Silase (hijauan yang difermentasi), Hay (hijauan yang dikeringkan atau dijemur “Sehingga berkurang kadar airnya atau lainnya dengan memanfaatkan bahan baku lokal seperti jerami padi, tebon jagung, rumput gajah, limbah sawit, bungkil, limbah pertanian hortikultura lainnya,” bebernya.
Fahmi menambahkan untuk pembuatan pakan alternatif, dapat bekerja sama dengan penyuluh peternakan/pertanian/mantri hewan atau pendamping lainnya terkait pembuatan silase secara kontinue. Pembuatan pakan alternatif dapat dilakukan tidak hanya pas musim kering/kemarau tetapi juga dapat juga dilakukan pada musim penghujan sebagai langkah antisipatif yang berfungsi sebagai cadangan pakan sepanjang waktu apabila terjadi ancaman bencana alam.(*)
(zuma)













